semoga cerita ini bisa jadi pelajaran buat kita semua…
Aku seorang istri dan belum dikarunia anak, usia pernikahan kami
sudah berjalan selama lima tahun. Perkenalanku dengan Pram (bukan nama
sebenarnya) berlangsung dalam situasi yang sangat romantis, demikianpun
ketika kami menjalani masa pacaran.
Masa-masa itu buatku adalah
masa-masa paling indah dalam sejarah hidupku. Pram adalah laki-laki yang
menjadi dambaaku, secara fisik maupun sifatnya yang alami. Dan alasan
itu pulalah yang membuatku akhirnya menerima pinangannya.
Namun setelah menjalani pernikahan selama lima tahun, aku mulai
merasakan kejenuhan. Alasan-alasanku mencintainya dulu telah berubah
menjadi sesuatu yang menjemukan. Terus terang aku adalah tipe perempuan
yang sangat sentimentil dan sensitif. Aku merindukan saat-saat romantis
seperti waktu kami masih berpacaran. Suamiku saat ini sangat berbeda
dari apa yang kuharapkan, dan aku mulai mencurigai perubahannya.
Hingga akhirnya aku mengajukan perceraian kepadanya. Saat itu ia
sangat terkejut, karena sebelumnya kami memang tak bertengkar. “Mengapa,
salahku apa Nen?” tanyanya bingung. “Aku lelah mas, kamu tak bisa lagi
memberikan cinta yang kuinginkan,” jawabku sekenanya. Ia memang langsung
terdiam dan termenung. Sepanjang malam itu ia sepertinya sulit untuk
memejamkan matanya.
Keesokan harinya ia kembali mempertanyakan alasan mengapa aku minta
bercerai. “Nen, apa yang bisa aku lakukan agar kamu mau merubah
pikiranmu itu, aku merasa aku telah memenuhi kewajibanku sebagai suami,
bisakah kamu menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya,” ia bertanya
dengan ekspresi wajah yang tak berubah. Kekecewaanku semakin bertambah,
seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya,
apalagi yang bisa aku harapkan darinya?
Aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan. “Aku punya
pertanyaan, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam perasaanku,
aku akan mengubah pikiranku. Seandainya, aku menyukai sesuatu dan
sesuatu itu amat sulit untuk diwujudkan kecuali dengan berkorban nyawa,
apakah kamu mau mewujudkannya untukku?”
Aku memang tak mendapatkan jawabannya malam itu, bahkan aku tak bisa
menemuinya keesokan harinya, ia menghilang dan pergi tanpa pamit. Yang
bisa kutemui hanya sepucuk surat berwarna pink di atas bantal.
“Sayangku, harus aku katakan bahwa aku tak bisa mewujudkan apa
yang kau sukai, karena itu akan membuatku mati, tapi aku ingin kau tauh
bahwa aku sangat mencintaimu, lebih dari yang kamu kira,”
Sungguh kalimat pertama itu membuatku hampir frustasi, tapi aku terus membaca kalimat demi kalimat selanjutnya.
“Sayangku, apa kamu tak pernah sadar, jika setiap hari aku harus
pergi pagi dan pulang larut malam, mengorbankan semua kesukaanku akan
kebebasan hanya untuk kamu, apakah kamu tak pernah mengerti ketika kamu
sakit aku yang selalu menyentuh tubuhmu dengan lembut melalui tanganku,
apakah kamu tak mengerti bahwa suara dari mulutku, selalu kuberikan
untuk menghibur kamu saat kamu mengalami kejenuhan akan hari-harimu.”
“Sayangku, apakah kamu sadar, setiap hari aku harus berjuang
memalingkan wajah dan mataku dari perempuan-perempuan lain yang mungkin
saja bisa menggodaku, aku harus menyegarkan mataku dengan tidak terlalu
sering menonton televisi seperti yang kamu lakukan, agar kelak mataku
masih bisa menatap kecantikanmu saat kita tua.”
“Tetapi Sayang, aku tidak akan bisa mewujudkan keinginanmu yang
hanya akan mengorbankan nyawaku. Karena, aku tidak sanggup melihat air
matamu mengalir menangisi kematianku. Sayang, aku tahu, ada banyak orang
yang bisa mencintaimu lebih daripada aku mencintaimu. Untuk itu Sayang,
jika semua yang telah diberikan oleh tanganku, kakiku, mataku tidak
cukup buatmu, aku tidak bisa menahanmu untuk mencari tangan, kaki, dan
mata lain yang dapat membahagiakanmu.”
Setetes demi setetes air mataku jatuh ke atas tulisannya dan
membuat tintanya menjadi pudar, tetapi aku tetap berusaha untuk terus
membacanya. “Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca
jawabanku. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap
menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah
kita, aku sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawabanmu. Tetapi
jika kamu tidak puas dengan jawabanku ini, biarkan aku masuk untuk
membereskan barang-barangku dan aku tidak akan mempersulit hidupmu.
Percayalah, bahagiaku adalah bila kamu bahagia.”
Aku segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan
pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang segelas susu dan
roti kesukaanku, aku lalu memeluknya. Kini aku tahu, tidak ada orang
yang pernah mencintaiku lebih daripada dia mencintaiku dan aku mulai
merasa takut kehilangannya.
Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur
hilang dari perasaan, karena merasa dia tidak dapat memberikan cinta
dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir
dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali
yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita dan
bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus
mengorbankan nyawa. (rn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Admin Catatan Ku Tidak selalu Online untuk memantau Komentar yang Masuk, Jadi tolong berikan Komentar Anda dengan Pantas dan Layak dikonsumsi oleh Publik. No SARA, SPAM dan Sejenisnya.